Drop Down Menu

Showing posts with label Buletin Khairu Ummah. Show all posts
Showing posts with label Buletin Khairu Ummah. Show all posts

Friday, 21 August 2015

Jika Mukmin (Bagian Kedua)

Edisi 20 Tahun XXIV – Jumadil Awal 1436 H/ Maret 2015 M


Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengembalian riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (QS Al Baqarah [2]: 278 – 279).

Sebagai apapun kita, ada konsekuensi yang harus kita tunjukkan, apalagi pengakuan kita sebagai mukmin yang pasti menuntut adanya pembuktian. Karena itu, Allah swt berfirman dalam beberapa ayat dan surat dengan kaliman “Jika kamu beriman.” Maka apa yang disebut sebelum kalimat itu menjadi sesuatu yang harus kita wujudkan, bila tidak, maka pengakuan kita sebagai mukmin tidak diakui oleh Allah swt.

Setelah pada tulisan lalu ada tiga yang harus kita buktikan, maka pada tulisan ini kita sebutkan tiga lagi.

Friday, 10 July 2015

Bukan Mukmin (Bagian Keempat)



Edisi 18 Tahun XXIV – Jumadil Awal 1436 H/ Februari 2015 M



Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami (Al A’raf [7]: 9)


Dalam kehidupan di dunia ini, manusia seringkali ingin mendapatkan pengakuan dari pihak lain. Karena itu, bila kita sudah beriman, tentu ingin diakui keimanan kita itu oleh Allah swt. Namun ternyata, Allah swt menyebutkan di dalam Al Quran orang yang tidak dianggap sebagai mukmin meskipun mengaku beriman. Karena masalah ini sangat penting untuk dikaji, maka kita lanjutkan pembahasannya.

Friday, 26 June 2015

Bukan Mukmin (Bagian Ketiga)



Edisi 17 Tahun XXIV – Jumadil Awal 1436 H/ Februari 2015 M




Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS An Nur [24]: 51).

Kita tentu tidak mau bila sudah mengaku beriman, tapi tidak diakui sebagai mukmin, atau dianggap tidak pantas sebagai mukmin. Di dalam Al Quran disebutkan dalam beberapa ayat yang menyebutkan seseorang dikatakan tidak beriman dalam arti tidak sempurna keimanannya. Karenanya menjadi penting kita kaji agar kita bisa memperbaiki terus keimanan kita.

Friday, 19 June 2015

‘Uluwwul Himmah (Obsesi Yang Tinggi)



Edisi 16 Tahun XXIV – Rabi’ul Akhir 1436 H/ Februari 2015 M




Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. (QS Yusuf [12]: 24).

Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah swt pasti kita mempunyai cita-cita atau keinginan, baik keinginan secara duniawi maupun ukhrawi. Tetapi seringkali kita menemukan keinginan tersebut kandas di tengah jalan, tidak sampai terealisasi, padahal keinginan itu sudah ada dalam benak pikiran kita. Salah satu penyebab terjadinya keinginan yang belum tercapai itu adalah belum adanya ‘Uluwwul Himmah, obsesi atau keinginan yang kuat.

Friday, 12 June 2015

Bukan Mukmin (Bagian Pertama)



Edisi 14 Tahun XXIV – Rabi’ul Akhir 1436 H/ Januari 2015 M

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui. (QS Al Jatsiyah [45]: 18).

Keimanan kepada Allah swt dan Rasul-Nya merupakan faktor yang sangat penting. Karena itu, iman harus selalu kita sempurnakan, jangan sampai pengakuan kita sebagai mukmin tapi tidak diakui. Ulama beberapa hadits, Rasulullah saw sampai menyebutkan kalimat “Seseorang diantara kamu”. Maksudnya adalah tidak sempurna iman salah seorang dari kita, karena penafikan (peniadaan) disini untuk menafikan (meniadakan) kesempurnaan, bukan menafikan keimanan.

Kecintaan Rasulullah saw kepada kita membuat beliau memberi peringatan dan nasihat agar jangan sampai keimanan kita tidak mencapai kesempurnaan. Karenanya, menjadi penting bagi kita untuk membahasnya secara singkat.

Friday, 24 April 2015

Dialog Di Padang Mahsyar

Edisi 12 Tahun XXIV – Rabi’ul Awal 1436 H/ Januari 2015 M 


Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS Al Baqarah [2]: 169).
Diantara rangkaian pada hari kiamat adalah semua manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar. Hari ini, manusia diberi catatan amal, ditimbang lalu divonis masuk surga atau neraka. Vonis masuk neraka merupakan keputusan Allah swt yang sangat tidak menyenangkan terhadap manusia, karenanya akan terjadi dialog yang amat penting untuk kita simak agar menjadi pelajaran dan hikmah bagi kita dalam kehidupan di dunia ini.


1. Dialog Orang Kuat dan Orang Lemah

Di dunia ini, banyak diantara manusia yang merasa lemah dan tidak berdaya, baik dari sisi keilmuan, kekayaan maupun kekuasaan. Merekapun mengikuti orang-orang yang dianggap kuat, baik dari sisi ekonomi maupun politik. Kekuatan yang mereka miliki di dunia telah membuatnya menjadi sombong hingga membuat ketentuan yang sangat bertentangan dengan ketentuan Allah swt, dan tragisnya manusia begitu mudah mengikuti dan mentaatinya. Karena itu, banyak sekali orang yang mengikuti saja kehendak pemilik modal dan penguasa, tanpa peduli tentang boleh dan tidaknya dari sisi nilai. Manusia menjadi begitu mengabaikan bahwa tanggungjawab dihadapan Allah swt sebenarnya masing-masing. Kesalahan tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain, terhadap pemimpin sekalipun, karena sang pemimpin juga ada hukumannya tersendiri.

Friday, 17 April 2015

Nama Kiamat (Bagian Ketiga)

Edisi 11 Tahun XXIV – Rabi’ul Awal 1436 H/ Januari 2015 M 


Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS Adh Dhukhan [44]: 40-42).

11. Yaum Al Hisab

Yaum Al Hisab (hari perhitungan) merupakan nama lain dari hari kiamat. Amal manusia memang akan dihitung secara detail, dimulai dari penghitungan yang terkait dengan shalat. Bila shalat baik, insya Allah akan baik pula hasil penghitungannya, Rasulullah saw bersabda: Amal yang pertama kali dihisab bagi seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Bila shalatnya baik, maka seluruh amalnya yang lain menjadi baik. Dan bila shalatnya rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya yang lain. (HR. Thabrani).

Karenanya ini harus mendapat perhatian kita dari sekarang, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (QS Al Hasyr [59]: 18-20).

Dalam konteks inilah, menjadi penting bafi kita untuk menghitung sendiri seberapa banyak kebaikan yang sudah kita lakukan untuk terus kita perbanyak, dan seberapa banyak keburukan yang kita lakukan untuk segera kita hentikan dan tidak melakukannya lagi. Sahabat Umar bin Khattab menyatakan: “Hitung-hitunglah dirimu, sebelum kamu dihitung.”
Manakala kita menghitung diri (muhasabah), maka akan kita tambah kebaikan yang masih kurang dan kita perbanyak apa yang sudah cukup, hal ini karena semakin banyak ama shaleh tentu akan semakin baik kehidupan kita di akhirat. Disinilah pentingnya bagi kita untuk berfastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Disinilah salah satu letak pentingnya bercermin pada orang yang lebih baik dari kita, dan kitapun harus menjadi cermin yang baik bagi orang lain, sehingga seseorang mendapati kekurangan dirinya dari kebaikan yang kita lakukan. Dengan demikian, bila di dunia ini seseorang tidak pernah mengevaluasi dirinya, dalam kehidupan di akhirat nanti ia akan sangat terkejut karena begitu sedikit nilai pahala yang diperolehnya, sedangkan nilai dosa justeru ama banyak.

Friday, 10 April 2015

Nama Kiamat (Bagian Kedua)

Edisi 10 Tahun XXIV – Rabi’ul Awal 1436 H/ Januari 2015 M


Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (lihat QS Al Muddatstsir [74]: 8 – 10).
Pasti ada makna penting dibalik sebuah nama, termasuk nama-nama hari kiamat yang disebutkan ileh Allah swt dan rasul-Nya di dalam Al Quran maupun hadits. Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk memahami apa saja nama-nama hari kiamat untuk selanjutnya kita ambil hikmahnya. Selain tulisan terdahulu sudah menjelaskan secara singkat, masih ada beberapa poin dalam tulisan ini.

7. Yaumu Addin

Ad Din adalah pembalasan, perhitungan dan ketaatan. Hari kiamat disebut yaumu ad ddin karena memang amal manusia dibalas dan dihitung, bahkan manusia saat itu amat taat kepada Allah swt atas segala keputusan-Nya, enak maupun tidak. Allah swt dikatakan sebagai raja pada hari itu, tidak ada raja-raja kecil yang banyak di dunia ini, Allah swt berfirman: Yang menguasai hari pembalasan (QS Al Fatihah [1]: 4).

Friday, 3 April 2015

Anak Angkat

Edisi 8 Tahun XXIV – Shafar 1436 H/ Desember 2014 M 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al Ahzab [33]: 40).
Islam merupakan agama yang sempurna dan lengkap, banyak hal yang diatur di dalam Islam dan selalu cocok dengan perkembangan zaman. Satu diantaranya tentang ayat yang turun terkait dengan masalah anak angkat (adopsi). Karena itu menjadi penting bagi kita utnuk memahaminya, apalagi masih banyak orang yang mendudukkan anak angkat sebagaimana anak kandung.

1. Bukan Dua Hati

Hati manusia hanya satu, karenanya bila terjadi kekeliruan karena hati yang bercabang, ada peluang dari Allah swt untuk memperbaikinya.

Sahabat Ibnu Abbas ra menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh At Tirmidzi bahwa suatu ketika, Rasulullah saw mengimami shalat bersama para sahabat, tiba-tiba terjadi kekeliruan (dalam bacaaan atau gerakan). Orang-orang munafik yang ikut shalat berkata: Tidakkah kalian lihat bahwa beliau memiliki dua hati, yang satu bersama kalian, sementara yang satu lagi bersamanya.

Menanggapi peristiwa itu, Allah swt menurunkan firman-Nya: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (QS Al Ahzab [33]: 4).

Friday, 27 March 2015

Sumber Kelalaian

Edisi 7 Tahun XXIV – Shafar 1436 H / Desember 2014 M


Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS Al Munafikun [63]: 9)
Setiap manusia dicipta oleh Allah swt dengan maksud yang mulia, yakni untuk mengabdi kepada-Nya. Namun, godaan dan tantangan hidup membuat banyak orang menyimpang dari jalan pengabdian, bahkan menjadi durhaka kepada Allah swt. Akibatnya martabat sebagai manusia jatuh sangat rendah, bahkan lebih rendah dari binatang ternak sekalipun, Allah swt berfirman: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al A’raf [7]: 179).

Secara harfiyah al ghaflu adalah sesuatu yang kosong, karenanya orang yang lalai adalah orang yang tidak mengharapkan kebaikan dari apa yang dilakukannya dan tidak takut keburukannya dan tidak takut keburukannya. Dalam istilah lain, lalai adalah ilha’ yang dimaksudnya adalah kesibukan yang memalingkan sesuatu yang diinginkan dan berpindah kepada yang diinginkah hawa nafsu. Karenanya menjadi penting bagi kita untuk mengetahui mengapa manusia sampai lalai. Kalau kita telusuri di dalam Al Quran, paling tidak sebabnya ada empat yang harus kita pahami.

Friday, 6 March 2015

Konsep Ketuhanan (Bagian Ketiga)

Edisi 6 Tahun XXIV – Shafar 1436 H/ Desember 2014 M


Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan (QSFushilat [41]: 22).
Hasil gambar untuk Konsep Ketuhanan (Bagian Ketiga)
Sebagai persoalan yang amat prinsip, masalah aqidah atau ketuhanan harus kita pahami dengan baik. Karena itu, Allah swt meluruskan persepsi manusia yang keliru tentang konsep ketuhanan sehingga diturunkan banyak ayat yang berkaitan dengan masalah ini.

1. Dusta Dalam Aqidah

Manusia seringkali mencari pembenaran atas kesalahan pemikiran, ucapan dan tindakannya.

Sahabat Ibnu Abbas menceritakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Juwaibir bahwa ada tiga kabilah yakni, Amir, Kinanah dan Bani Salamah yang masyarakatnya menyembah berhala. Mereka berkata: “Kami tidak menyembahnya melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

Atas ucapan itu, Allah swt menurunkan firman-Nya: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar (QS Az Zumar [39]: 3).

Friday, 27 February 2015

Konsep Ketuhanan (Bagian Kedua)

Edisi 5 Tahun XXIV – Shafar 1436 H/ Nopember 2014 M


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umul kitab (Lauhil mahfuz). (QS Ar Ra’ad [13]: 38-39).
Kekeliruan manusia dalam memahami konsep ketuhanan harus diluruskan, karenanya sejumlah ayat diturunkan Allah swt berkenaan dengan konsep ketuhanan yang benar. Karena itu menjadi penting bagi kita untuk mengkajinya.

1. Mukjizat dan Izin Allah.

Para Nabi mendapatkan tantangan dari umatnya. Mukjizat membuat diantara penentang Nabi berbalik menjadi beriman dan pengikut yang setia.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid bahwa orang-orang Quraisy berkata: “Wahai Muhammad, kami lihat kamu tidak berdaya sama sekali, habislah harapan.” Maka Allah swt kemudian menurunkan firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umul kitab (Lauhil mahfuz). (QS Ar Ra’ad [13]: 38-39).

Dari kisah, pelajaran yang dapat kita ambil adalah; Pertama, mukjizat merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah swt yang ditunjukkan kepada manusia melalui Rasul-Nya. Karenanya hal itu bukan sesuatu yang dimiliki dan bukan keahlian seorang Nabi. Kedua, Allah swt menghapus hukum yang dikehendaki-Nya lalu mengganti dengan hukum lain yang dikehendakinya sesuai dengan kemaslahatan bagi manusia.

Friday, 16 January 2015

Konsep Ketuhanan (bagian pertama)

Edisi 4 Tahun XXIV – Muharram 1436 H/ Nopember 2014 M

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah [2]: 186)
Konsep ketuhanan merupakan persoalan paling pokok dalam agama. Banyak agama yang mengalami kerancuan dalam konsep ketuhanan. Karena itu, Islam merupakan agama yang sangat jelas dalam masalah ketuhanan dan ada sejumlah ayat Al Quran yang turun berkaitan dengan masalah ketuhanan, baik karena adanya pertanyaan maupun pelurusan atas kekeliruan manusia. Kajian masalah ini menjadi sangat penting bagi setiap muslim, karenanya tulisan ini disusun untuk kita ambil hikmahnya.

Friday, 26 December 2014

Bersikap Atas Informasi



Edisi 3 Tahun XXIV – Muharram 1436 H / Nopember 2014 M


Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu
(QS Al Hujurat [49]: 6)

Zaman sekarang disebut dengan era informasi. Melalui berbagai media, begitu banyak informasi setiap hari bahkan setiap menit dan detik. Ada informasi yang baik dan ada banyak yang buruk. Ada informasi yang isinya benar, tidak sedikit yang salah, bahkan berisi fitnah.

Dalam menyikapi informasi atau berita yang masuk, sebagai pemimpin Rasulullah saw sangat hati-hati, karenanya ada beberapa kejadian penting hingga menyebabkan turunnya ayat Al Quran. Dalam kaitan ini, menjadi penting bagi kita untuk mengkajinya. Allah swt berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu (QS Al Hujurat [49]: 6)

Friday, 19 December 2014

Pesan Moral (Bagian Keempat)



Edisi 2 Tahun XXIV -  Muharram 1436 H / Nopember 2014 H


“Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”. Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.
(QS At Taubah [9]: 49)

Pesan-pesan moral untuk mengingatkan dan memotivasi agar hidup lebih baik saya sampaikan setiap hari melalui media sosial seperti facebook, bbm dan whatsapp. Dengan sedikit tambahan uraian, saya sampaikan untuk jamaah pembaca bulletin Jumat Khairu Ummah.

Friday, 12 December 2014

Pesan Moral (Bagian Ketiga)



Edisi 1 Tahun XXIV – Muharram 1436 H / Oktober 2014 M


Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).”
(QS. An Naml [27]: 55)

Pesan-pesan dakwah bisa disampaikan melalui media sosial. Meskipun sudah saya sampaikan dan disebarluaskan, tidak ada salahnya saya sampaikan melalui media ini dengan tambahan uraian yang diperlukan. Bila kita mau, maka pesan-pesan dakwah bisa kita sampaikan kepada banyak orang dengan cara yang mudah.

Friday, 14 November 2014

Pesan Moral (Bagian Kedua)



Edisi 48 Tahun XXIII – Dzulhijjah 1435 H/ Oktober 2014 M


Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh
(QS Ali Imran [3]: 114)

Pesan-pesan moral harus kita sampaikan kepada orang lain, kapan dan dimana saja. Yang sudah tahu menyegarkan pengetahuan, yang lupa jadi ingat kembali dan yang belum mengerti jadi paham hingga semuanya bersikap dan beramal yang positif. 

Media sosial yang sudah menjadi bagian hidup kita sehari-hari bisa kita manfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Saya berusaha memanfaatkannya..

Friday, 31 October 2014

Pesan Moral (Bagian Pertama)

Edisi 47 Tahun XXIII – Dzulhijjah 1435 H / Oktober 2014 M



Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali Imran: 31)

Media sosial seperti facebook, twitter, whatsapp, BBM bisa kita gunakan untuk menyebar fitnah, berita bohong hingga kebencian dan permusuhan. Namun, sangat bisa kalau kita mau menggunakannya untuk bisnis, menginformasikan kebaikan hingga menyampaikan pesan-pesan moral yang memotivasi dan menginspirasi. Saya berusaha melakukannya untuk yang kedua ini. Karenanya tulisan ini dengan sedikit penyempurnaan adalah kumpulan dari pesan moral yang sudah saya sebarluaskan melalui media sosial dan banyak orang yang sudah ikut menyebarluaskannya juga untuk komunitas masing-masing.

Friday, 24 October 2014

Mewujudkan Komitmen Tertinggi



Edisi 46 Tahun XXIII – Dzulhijjah 1435 H / Oktober 2014 M


Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh
(QS Al Hajj [22]: 27)

Rasa syukur kembali kita tunjukkan kepada Allah swt, pagi ini bersama sekitar tiga juta jamaah haji, kita laksanakan shalat Idul Adha, sesudah ini kitapun akan melakukan penyembelihan hewan qurban, semuanya adalah dalam rangka meningkatkan kedekatan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt sebagaimana firman-Nya:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Hajj [22]: 37).

Friday, 10 October 2014

ASBABUN NUZUL HAJI (Bagian Dua)

Edisi 45 Tahun XXIII – Dzulhijjah 1435 H / Oktober 2014 M


Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(QS Al Baqarah [2]: 199)

Ayat-ayat di dalam Al Quran yang terkait dengan haji sangat penting untuk kita pahami, apalagi bagi para jamaah haji. Hikmah yang besar tentu akan diperoleh bila mempelajari suatu ayat, salah satunya dari sisi sebab diturunkannya.